Home
UNSTRAT
Peringkat Pengguna: / 1
Ditulis oleh Redaksi   
Saturday, 12 June 2004

‘Inilah saya’ kali ini, bukan ‘inilah saya’ sebagai sebuah catatan personal. ‘Saya’ sebagai catatan perjalanan sebuah lembaga. Lebih tepatnya adalah ‘inilah saya, komunitas’. Baiklah, siapa yang saya ceritakan? Ia adalah organisasi yang bergerak di dunia kreatif, meliputi teater, sastra, dan film. Ia adalah bagian dari sebuah lembaga besar bernama Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Oleh karena ‘bagian’, maka nama pertamanya dimulai dengan kata ‘unit’. Ia pun dinamai Unit Studi Sastra dan Teater, kemudian berakronim Unstrat.

Unstrat adalah kelompok, tapi bebas sendiri-sendiri tidak dianggap masalah, tapi tentu tetap ada ikatan. Artinya, boleh aktif di luar Unstrat. Dari hal tersebut, pernah muncul istilah baru, semacam kelompok eksklusif yang menamakan dirinya ‘universitas kehidupan’. Di antara anggota tarjadi persaingan. Misalnya, kalau nilai ‘anak-anak teater’ jelek maka dinyek-nyeki, diejek, tapi kalau ketahuan belajarnya juga malu. Pokoke sinau pas ora ketok uwong, sebisa mungkin kalau belajar jangan sampai orang tahu. Jadi keabsurditasan itu ditandai dengan pergaulan seni budaya yang mengarah kepada nilai-nilai tertentu.

Sentuhan-sentuhan kehidupan kesenian betapa makronya untuk memperdalam apa sih kesenian. Jadi sangat luas melingkupi berbagai bidang. Misalkan ada anggota yang aktif di satu bidang, maka disuport, karena dia adalah bagian dari komunitas. Sehingga dia merasa terlingkupi, tapi antaranggota tidak pernah merasa melingkupinya. Kekuatannya adalah kekuatan komunitas.

Kondisi yang paling sadis bisa terjadi ketika diskusi, misalnya di depan tugu atau di bawah bambu. Biasanya ngomong karya. Kalau seseorang belum membaca, ia diusir, disuruh minggir. Terasa sadis, tapi itu baik. Entah mis-nya di mana tapi sering kebablasen, misalnya sarjana muda yang harusnya tiga tahun ditempuh 4 tahun, sarjana yang harusnya tambah dua tahun ditempuh sekian tahun, atau malah bablas (tidak dirampungkan). Tapi semua tahu bahwa mereka tidak goblok. Hal ini disadari karena Unstrat keluar dari bingkai formal.

Kalau dikatakan, Unstrat itu dulu dari sastra, lalu meluas (bermacam bidang dan kehidupan), tapi kemudian menyempit menjadi sastra, teater, dan film. Dalam artian ketika organisasi Unstrat terbentuk, maka harus diatur manajerialnya lebih baik, sehingga boleh dikatakan hal tersebut merupakan pemodernisasian organisasi. Tapi pemodernisasian organisasi tersebut ada yang tereduksi, misalnya, sekarang alam menciptanya kurang, atau lebih banyak mengurusi lembaga. Dulu pernah ada satu masa yang ikatannya sangat kuat, karena yang disentuh bukan formalitas lembaga tapi substansinya. Kemunculan Unstrat lebih pada ‘nyethakke’, artinya organisasi itu harus formal. Kalau modelnya penguasa agar gampang mendeteksinya.

Ya, inilah saya. Barangkali seperti muasal jalan, ia mulanya tanah lapang yang dilewati satu-dua pasang kaki. Karena beberapa kali dilewati, maka meninggalkan napak tilas (seperti garis pada selembar kertas). Orang lain yang kebetulan mau menuju ke tempat yang sama, dengan serta-merta bisa mengidentifikasi bahwa itulah garis yang pernah dilalui orang. Lama-lama terbentuk jalan kecil. Lalu diperlebar. Lalu dirapikan. Lalu menjadi jalan raya. Ada yang mengatur. Banyak rambu-rambu. Banyak iklan. Banyak sekali lalu-lalang. Tapi sesekali sepi. Mungkin sebuah komunitas juga demikian. Mungkin saja.

Tulisan di atas adalah olahan dari obrolan kecil bersama Suminto A. Sayuti, Budi Nugroho, Tomy Samirono, dan Bowo Kusumo.


Wayahe Wis Wening